Kupas Tuntas Novel "Syaikh Siti Jenar" Tentang Suluk Abdul Jalil Perjalanan Ruhani (Buku 1 dan 2)
Halloooo pembacaku,
Hari ini aku akan kupas soal novel tetapi aku akan nulis suatu kalimat yg bisa dipelajari oleh semuanya.
Selamat membaca 😉
Jangan lupa cemilan nya + secangkir kopi pait.
~ Manusia adalah manusia. Semakin ia dilarang akan semakin kuat ia melanggar.
~ Manusia pada hakikatnya tidak memiliki kehendak, meski sebesar zarah, karena Yang Maha Berkehendak hanyalah Allah, Rabb alam semesta (QS. At-Takwir:29). Itu sebabnya, dalam hal kelahiran, perkawinan, peruntungan nasib baik dan buruk, dan kematian adalah multak ditentukan oleh-Nya. Tidak satu makhluk pun bisa menentukan apakah dirinya harus menjadi manusia, jin, malaikat, hewan, atau tetumbuhan. Pun tidak seorang juga dapat memilih lahir di dunia sebagai laki-laki atau perempuan. Tidak juga orang dapat memilih harus lahir dari keluarga kaya atau keluarga terhormat. Seseorang tidak dapat mengatur apakah dirinya harus mati dalam keadaan Husna al-khatimah atau su u al-khatimah. Semuanya yang mengatur Allah. Mutlak.
Dalam ini Islam adalah ikatan perjanjian antara manusia dan Sang Pencipta, sebagai kelanjutan perjanjian-perjanjian sebelumnya. Manusia yang mengikatkan diri di dalamnya harus mematuhi peraturan-peraturan yang telah ditetapkan, baik yang bersifat hallblun min an-nas maupun hablun min Allah, yakni tatanan kehidupan yang sudah disampaikan oleh barisan nabi sejak Adam hingga Muhammad.
Inti dari buku pertama dan kedua itu adalah :
"Manusia boleh berencana dan berusaha, namun Tuhan lah penentu keputusan akhir.
Kita masing-masing akan mengalami tingkat kepahitan sesuai tingkat kepemilikan kita. Semakin kuat perasaan dan pikiran kita mencintai segala yang kita anggap milik kita maka semakin kuat pula tingkat kepahitan yang harus kita telan.
Disini ada kalimat yang selalu membuat aku berfikir saat menulis postingan ini,
Yang menjadi penyebab utama berpisahnya Musa dari Khidir adalah ketidakmampuan Musa menahan diri untuk tidak bertanya. Karena khawatir kata-kata itu dimaksudkan untuk menyindir soal keanehan yang bakal ditemuinya nanti. Maka untuk itu seharusnya kita diam meski dikepala kita berkecamuk lingkaran tanda tanya. Lebih baik diam daripada kita harus berkata.
Keyakinan, ketakutan, kecintaan, dan harapan yang ditujukan hanya kepada-Nya adalah modal utama bagi seorang dalil agar bisa tetap setia pada jalan-Nya. Tidak peduli besarnya jumlah musuh, luka-luka, darah, rasa sakit, pedih, dan derita yang dialami dalam melintasi setiap gerbang, seorang salik wajib setia mengikuti jalan-Nya.
Karena Dia adalah tujuan akhirku. Demi Dia, kuperangi kalian semua!.
Sekian kupas tuntas ku yah, 😊
Untuk part selanjutnya aku usahakan besok yah. Semoga setiap kalimat yang aku tulis bermakna bagi para pembaca.
Salam hangat ku 👯
Komentar